jump to navigation

Membentuk suasana kantor yang produktif Rabu, 9 Juli 08

Posted by kamal87 in enterpreneurship.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

Saat ini saya sedang magang disebuah perusahaan software house di daerah warung buncit. Entah karena memang jiwa saya bukan jiwa pekerja kantoran atau karena memang suasana kantornya yang kurang menarik, saya mereasa suasana kantor itu sangat membosankan. Setelah saya ricek, ternyata memang suasana kantornyalah yang tidak menarik. Hal ini bisa dibuktikan dengan sikap teman-teman saya yang lain (agung, hening) yang juga magang disana. Mereka ternyata juga merasa sangat bosan bekerja disana (padahal baru beberapa minggu, gak kebayang deh yang udah bertahun-tahun disana :) )

Memang gimana sih suasana disana? Mungkin secara kasat mata semuanya terliaht sangat normal. Kami masuk sekitar jam 9, duduk didepan komputer sampai jam 12. Istirahat sejenak untuk sholat dan makan, kembali kedepan komputer hingga datang waktu ashar, lalu sholat lagi dan kerja lagi sampai jam 6, baru kemudian sholat maghrib untuk kemudian langsung pulang. Apakah ada yang aneh? Tidak ada kan ya? semuanya sangat normal. Tapi bagi saya itu “terlalu” normal. Benar-benar hidup yang monoton. Sangat tidak mengasyikkan. Kehidupan yang sama sekali tidak memberikan tantangan.

Selain itu, kantor tersebut juga seringkali meminta kami para pegawai-pegawainya untuk lembur bermalam-malam dikantor. bahkan sering pula diadakan karantina disuatu tempat untuk benar-benar fokus mengerjakan tugas-tugas kantor. Upaya seperti ini benar-benar telah menguras habis energi pegawai dan menghalangi para pegawai untuk berpikir kreatif memberdayakan daya pikir mereka untuk kemajuan perusahaan.

Walaupun begitu memang saya akui, fasilitas dan sarana yang diberikan untuk para pegawai dikantor tersebut sudah cukup memadai. Ruangan ber AC yang sejuk (gak bisa dibilang sejuk sih, lebih tepat SANGAT dingin :p), CPU yang cukup canggih, monitor LCD, makan siang yang lumayan enak, ruang kerja yang nyaman dsb. Tapi tetap saja semua itu tidak bias benar-benar membangkitkan semangat kerja karyawan.

Dalam teori manajemen, ada sebuah teori bernama teori hawthorn (klo gak salah) yang membagi faktor kondusifitas kerja kedalam dua faktor yaitu: hygiene factor dan motivational factor. Hygiene factor adalah semua faktor yang menyebabkan pegawai tidak komplain dengan atasannya. Semua fasilitas yang disebutkan diatas itu termasuk hygiene factor. Sementara itu, motivational factor adalah semua faktor yang membuat karyawan memiliki semangat kerja yang tinggi. Motivational factor jelas lebih baik daripada hygiene factor.

Sampai saat ini saya sudah dua kali merasakan jadi pekerja bagi orang lain. Pada pengalaman kerja pertama saya, saya sama sekali tidak mendapatkan motivational factor apalagi hygiene factor. Disana saya benar-benar dijadikan budak dengan upah yang sangat minim. Mungkin karena memang waktu itu saya masih sangat junior, baru semester 2. Masih polos. Dan pada magang kali ini saya paling tidak mendapat hygiene factor yang cukup tinggi, tapi tetap saja motivational facotr dikantor saya saat ini masih sangat minim. Istilah kasarnya seperti ini: “Ini saya kasih fasilitas lengkap, sekarang ayo kamu kerja! kerja! kerja!” :)

Sebenarnya sih gak segitu2 amat sih, tidak ada otoritarianisme disana. Tidak ada tekanan represif disana. Yang ada adalah “kedataran”. Tidak ada tantangan. Dan suasana tersebut sebenarnya justru ikut dibangun oleh para karyawan disana. Mereka juga tampaknya sangat menikmati pekerjaan mereka yang tak henti-hentinya mengerjakan proyek demi proyek tanpa mengembangkan daya pikir mereka sendiri. Makan siang, satu-satunya waktu yang saya lihat masih memungkinkan obrolan-obrolan yang dapat diarahkan untuk membangun kreatifitas ternyata juga tidak terberdayakan. Kenapa? karena banyak dari mereka yang makan siang persis didepan komputer emreka masing-masing. Smabil terus memikirkan celah-celah pekerjaan yang harus dia lakukan. Ternyata justru para karyawanlah yang membentuk suasana perbudakan itu sendiri. Gawat betul! Kondisi semakin diperparah dengan tidak adanya inisiatif dari atasan untuk memperbaiki kondisi ini. Toh atasannya juga sama seperti para karyawan, mereka asik berkutat didepan komputer mereka.

Lalu gimana donk suasana kantor yang bagus? Model yang saya lihat sangat bagus untuk perusahaan IT adalah kantor google. Orang yang pertama kali masuk ke kantor google sama sekali tidak akan merasa bahwa dia sedang masuk ke sebuah kantor. Di bagian lobi, kita bisa melihat ada orang yang bermain skateboard didalam ruangan. Balon2, meja billiard, spa, Bola bisbol dsb. Bisa ditemukan dikantor google. Apakah semua kesenangan tersebut membuat karyawan menjadi tidak produktif karena kerjaannya senang2 terus? nyatanya tidak kan, kita bisa lihat dengan semua itu google bisa menjadi perusahaan IT yang sangat produktif dengan inovasi yang terus mengalir. Dalam hal motivational, Larry page dan sergey brin juga membuat satu aturan tersendiri yang memungkinkan lahirnya begitu banyak inovasi dari google. Larry page dan sergey brin menentukan hari jumat sebagai hari tanpa kerja rutin. Momen ini di google disebut TGIF (Thanks God It’s Friday). Pada hari ini semua karyawan dibebaskan dari tugas rutinnya untuk memikirkan atau mengerjakan ide kreatif dan inovatif yang dimimilikinya. Pada hari ini juga diadakan sebuah forum yang mempertemukan para karyawan google dengan pimpinan mereka, untuk sekedar saling curhat, protes, kritik, saran dsb. Forum ini terbukti berhasil membentuk kedekatan antara atasan dan bawahan. Hal ini jelas berimbas sangat positif pada perkembangan perusahaan.

Saya benar-benar mengambil pelajaran dari magang saya dikantor ini. Saya jadi tahu bagaimana sebenarnya kondisi perusahaan-perusahaan IT secara umum di Indonesia. Kebanyakan bergerak secara monoton, inilah yang menyebabkannya sulit berkembang dengan baik. Suatu saat nanti jika saya sudah membuat kantor untuk perusahaan saya, univind. Saya akan membuat suasana kantor yang baik untuk para karyawan saya. Saya akan memberikan baik hygiene factor maupun motivational factor yang tinggi untuk para karyawan saya.

Ada ebook yang sangat bagus buatannya mas yodhia antariksa (strategimanajemen.net) mengenai topik yang saya tulis sekarang. Kalau tertarik silahkan download ebooknya disini: ebook managing people strategy

Komentar»

1. anjar - Kamis, 10 Juli 08

jadi nt gak suka yg monoton mal?
ane tunggu klo gitu nt nanti mo bikin kayak gimana

kerja kantoran tergantung orangnya sih
klo kayak ane, ane kebanyakan jalan2 di kantor dibandingkan di depan monitor (wekekekek), maklumlah kebiasaan dari dulu

2. Bagoes - Jumat, 11 Juli 08

iya neeh, sama sy juga kdg2 merasakan monoton di tempat kerja…

datang jam 8, duduk di depan laptop, kerjakan tugas rutin harian, udah selesai browsing2, ntar siang makan + solat Dzuhur…

udahnya, duduk lg di depan laptop, kerjakan lg tugas rutin harian, udah selesai browsing2 lg, ntar solat Ashar dan siap2 mau pulang jam 1/2 5…

gitu terus dari senin – jumat (kcuali Selasa dan Jumat pagi yg ada kegiatan olahraga)

monoton khan? apalagi klw Sabtu/Minggu disuruh lembur juga…
Ugh, bener2 bikin bosen banget… :(

pengen juga tuh bikin suasana ky Google, jd banyak ide2 kreatif dan bisa menumbuhkan kedekatan antar karyawannya, tidak “dikotak-kotakkan”…

someday… :)