Manfaat microblogging Selasa, 11 November 08
Posted by kamal87 in ilmu2 IT, web dan internet.Tags: aviary, berbagi, bisnis, CEO, hobi, komunitas, marketing, mentor, microblog, microblogging, nukman luthfie, plurk, plurker, produk, produktif, sharing, suara, twit, twitter, usaha, virtual
comments closed
Pada postingan sebelumnya di univindblog, saya membuat tulisan tentang apa itu microblogging dan disana saya menjanjikan akan membuat tulisan lanjutan mengenai manfaat dari microblogging ini. Beberapa waktu yang lalu saya pernah mem-posting pernyataan seperti ini di plurk (plurk merupakan salah satu layanan microblogging) saya: “Ngeplurk gak produktif, stujuh gak?”. Dari plurk tersebut, ragam respons berdatangan. Ada yang setuju, ada yang tidak. Tapi kebnyakan melihat plurk sebagai seustua yang produktif. Walaupun disitu saya tidak mendapatkan jawaban pasti dimana letak produktifnya plurk itu? Akhirnya…. saya mencoba bertapa ke gunung semeru untuk bertemu dengan mbah joko kelongo (halah…). Intinya, saya mencoba menganalisis dan mencari-cari informasi yang menunjukkan penggunaan microblogging untuk hal-hal yang produktif. Dan inilah dia hasil meditasi saya:
Baca Lanjutannya di: blog.univind.com – Manfaat microblogging
Membentuk suasana kantor yang produktif Rabu, 9 Juli 08
Posted by kamal87 in enterpreneurship.Tags: customer, employee, factor, faktor, hawthorne, hygiene, hygiene factor, kantor, karyawan, kepuasan, kondusif, manajemen, motivational factor, pegawai, produktif, produktifitas, strategi, suasana, teori, warung buncit
2 comments
Saat ini saya sedang magang disebuah perusahaan software house di daerah warung buncit. Entah karena memang jiwa saya bukan jiwa pekerja kantoran atau karena memang suasana kantornya yang kurang menarik, saya mereasa suasana kantor itu sangat membosankan. Setelah saya ricek, ternyata memang suasana kantornyalah yang tidak menarik. Hal ini bisa dibuktikan dengan sikap teman-teman saya yang lain (agung, hening) yang juga magang disana. Mereka ternyata juga merasa sangat bosan bekerja disana (padahal baru beberapa minggu, gak kebayang deh yang udah bertahun-tahun disana
)
Memang gimana sih suasana disana? Mungkin secara kasat mata semuanya terliaht sangat normal. Kami masuk sekitar jam 9, duduk didepan komputer sampai jam 12. Istirahat sejenak untuk sholat dan makan, kembali kedepan komputer hingga datang waktu ashar, lalu sholat lagi dan kerja lagi sampai jam 6, baru kemudian sholat maghrib untuk kemudian langsung pulang. Apakah ada yang aneh? Tidak ada kan ya? semuanya sangat normal. Tapi bagi saya itu “terlalu” normal. Benar-benar hidup yang monoton. Sangat tidak mengasyikkan. Kehidupan yang sama sekali tidak memberikan tantangan.
Selain itu, kantor tersebut juga seringkali meminta kami para pegawai-pegawainya untuk lembur bermalam-malam dikantor. bahkan sering pula diadakan karantina disuatu tempat untuk benar-benar fokus mengerjakan tugas-tugas kantor. Upaya seperti ini benar-benar telah menguras habis energi pegawai dan menghalangi para pegawai untuk berpikir kreatif memberdayakan daya pikir mereka untuk kemajuan perusahaan.
Walaupun begitu memang saya akui, fasilitas dan sarana yang diberikan untuk para pegawai dikantor tersebut sudah cukup memadai. Ruangan ber AC yang sejuk (gak bisa dibilang sejuk sih, lebih tepat SANGAT dingin :p), CPU yang cukup canggih, monitor LCD, makan siang yang lumayan enak, ruang kerja yang nyaman dsb. Tapi tetap saja semua itu tidak bias benar-benar membangkitkan semangat kerja karyawan.
Dalam teori manajemen, ada sebuah teori bernama teori hawthorn (klo gak salah) yang membagi faktor kondusifitas kerja kedalam dua faktor yaitu: hygiene factor dan motivational factor. Hygiene factor adalah semua faktor yang menyebabkan pegawai tidak komplain dengan atasannya. Semua fasilitas yang disebutkan diatas itu termasuk hygiene factor. Sementara itu, motivational factor adalah semua faktor yang membuat karyawan memiliki semangat kerja yang tinggi. Motivational factor jelas lebih baik daripada hygiene factor.
Sampai saat ini saya sudah dua kali merasakan jadi pekerja bagi orang lain. Pada pengalaman kerja pertama saya, saya sama sekali tidak mendapatkan motivational factor apalagi hygiene factor. Disana saya benar-benar dijadikan budak dengan upah yang sangat minim. Mungkin karena memang waktu itu saya masih sangat junior, baru semester 2. Masih polos. Dan pada magang kali ini saya paling tidak mendapat hygiene factor yang cukup tinggi, tapi tetap saja motivational facotr dikantor saya saat ini masih sangat minim. Istilah kasarnya seperti ini: “Ini saya kasih fasilitas lengkap, sekarang ayo kamu kerja! kerja! kerja!”
Sebenarnya sih gak segitu2 amat sih, tidak ada otoritarianisme disana. Tidak ada tekanan represif disana. Yang ada adalah “kedataran”. Tidak ada tantangan. Dan suasana tersebut sebenarnya justru ikut dibangun oleh para karyawan disana. Mereka juga tampaknya sangat menikmati pekerjaan mereka yang tak henti-hentinya mengerjakan proyek demi proyek tanpa mengembangkan daya pikir mereka sendiri. Makan siang, satu-satunya waktu yang saya lihat masih memungkinkan obrolan-obrolan yang dapat diarahkan untuk membangun kreatifitas ternyata juga tidak terberdayakan. Kenapa? karena banyak dari mereka yang makan siang persis didepan komputer emreka masing-masing. Smabil terus memikirkan celah-celah pekerjaan yang harus dia lakukan. Ternyata justru para karyawanlah yang membentuk suasana perbudakan itu sendiri. Gawat betul! Kondisi semakin diperparah dengan tidak adanya inisiatif dari atasan untuk memperbaiki kondisi ini. Toh atasannya juga sama seperti para karyawan, mereka asik berkutat didepan komputer mereka.
Lalu gimana donk suasana kantor yang bagus? Model yang saya lihat sangat bagus untuk perusahaan IT adalah kantor google. Orang yang pertama kali masuk ke kantor google sama sekali tidak akan merasa bahwa dia sedang masuk ke sebuah kantor. Di bagian lobi, kita bisa melihat ada orang yang bermain skateboard didalam ruangan. Balon2, meja billiard, spa, Bola bisbol dsb. Bisa ditemukan dikantor google. Apakah semua kesenangan tersebut membuat karyawan menjadi tidak produktif karena kerjaannya senang2 terus? nyatanya tidak kan, kita bisa lihat dengan semua itu google bisa menjadi perusahaan IT yang sangat produktif dengan inovasi yang terus mengalir. Dalam hal motivational, Larry page dan sergey brin juga membuat satu aturan tersendiri yang memungkinkan lahirnya begitu banyak inovasi dari google. Larry page dan sergey brin menentukan hari jumat sebagai hari tanpa kerja rutin. Momen ini di google disebut TGIF (Thanks God It’s Friday). Pada hari ini semua karyawan dibebaskan dari tugas rutinnya untuk memikirkan atau mengerjakan ide kreatif dan inovatif yang dimimilikinya. Pada hari ini juga diadakan sebuah forum yang mempertemukan para karyawan google dengan pimpinan mereka, untuk sekedar saling curhat, protes, kritik, saran dsb. Forum ini terbukti berhasil membentuk kedekatan antara atasan dan bawahan. Hal ini jelas berimbas sangat positif pada perkembangan perusahaan.
Saya benar-benar mengambil pelajaran dari magang saya dikantor ini. Saya jadi tahu bagaimana sebenarnya kondisi perusahaan-perusahaan IT secara umum di Indonesia. Kebanyakan bergerak secara monoton, inilah yang menyebabkannya sulit berkembang dengan baik. Suatu saat nanti jika saya sudah membuat kantor untuk perusahaan saya, univind. Saya akan membuat suasana kantor yang baik untuk para karyawan saya. Saya akan memberikan baik hygiene factor maupun motivational factor yang tinggi untuk para karyawan saya.
Ada ebook yang sangat bagus buatannya mas yodhia antariksa (strategimanajemen.net) mengenai topik yang saya tulis sekarang. Kalau tertarik silahkan download ebooknya disini: ebook managing people strategy
Membangun Silicon Valley Indonesia (1) Senin, 16 Juni 08
Posted by kamal87 in enterpreneurship, indonesian IT development, indonesian development.Tags: angel investor, Bandung, bandung High Tech Valley, BHTV, Bogor Cybertech Valley, Budi rahardjo, dana, entrepreneur, entrepreneurship, google, hacker, High, implementasi, Indonesia, inovasi, investor, IT, ITB, jaringan saraf tiruan, kampus, kreatif, lembah, lembah silikon, maestro, Malang Information Techno Farm, microsystem, Multimedia Infocom Resources, neural network, pemodal ventura, potensi, produktif, riset, sequoia, silicon, silicon valley, silikon, stanford, stanford university, sun, sun microsystem, tech, teknologi, university, Unpad, valley, venture, venture capital, web
5 comments
Apa yang sebenarnya terjadi di silicon valley? Kenapa tempat tersebut bisa menjadi pusat inovasi teknologi tinggi dunia? Kenapa bisa tumbuh begitu banyak perusahaan-perusahaan teknologi kelas dunia dari lembah tersebut? Kesuksesan wilayah tersebut didorong oleh dua faktor utama. Yaitu: kreatifitas inovasi dan entrepreneurship. Mari kita telisik satu per satu…
[Baca lanjutannya di MustafaKamal.biz - Membangun Silicon Valley Indonesia]
Ayo manfaatkan liburan dengan kegiatan yang prestatif dan produktif Rabu, 9 Januari 08
Posted by kamal87 in blognews, taushiyah.Tags: web, teknologi, jalan-jalan, STT Telkom, Sekolah, Tinggi, Telkom, Liburan, hura-hura, senang, produktif, prestasi, prestatif, BEM, islamipedia, design, home course
8 comments
Masa-masa awal liburan saya sudah dipenuhi dengan banyak agenda senang-senang. agenda jalan-jalan ke berbagai tempat, meskipun memang agenda jalan-jalannya selalu diiringi dengan agenda lain yang cukup penting. 3 hari yang lalu saya pergi ke sukabumi dalam rangka rapat kerja perusahaan saya univind, sekaligus team building. Pulang dari sukabumi hari minggu sore, malamnya saya istirahat. kemudian senin paginya saya berangkat lagi ke puncak dalam rangka Evaluasi Paruh Tahun BEM Fasilkom dan kemudian dilanjutkan dengan pergi studi banding ke STT telkom. Sungguh senang bertemu teman-teman di STT telkom yang telah menyambut kami dengan sangat-sangat hangat dan akrab. Disana saya berkenalan dengan mas bijak (ketua HMIF STT telkom), mas justin (ketua java user group STT Telkom), dan masih banyak lagi teman-teman yang lain.
Semua agenda senang-senang tersebut tentunya sudah sangat berhasil me-refresh mental dan fisik saya yang selama semester kemarin telah dibombardir dengan berbagai macam kegiatan-kegiatan perkuliahan dan organisasi. Namun kita mesti hati-hati menghadapi suasana serba luang seperti ini. Kebanyakan kita akan mengalami euphoria pada saat liburan. Kita akan mengatakan “ini saatnya balas dendam”, dan kemudian menghambur-haburkan waktu liburan hanya untuk kegiatan-kegiatan yang kurang produktif seperti download membabi buta, menghabiskan semua manga yang belum sempat terbaca, menonton semua DVD/film hasil donlotan yang belum tuntas, jalan-jalan terus sepanjang liburan, TIDUR dll.
Jangan sampai waktu yang sangat lapang ini kita sia-siakan. Jangan sampai liburan ini hanya digunakan untuk melampiaskan semua keinginan kita bersenang-senang yang telah terpendam lama. Ayo kita manfaatkan waktu luang ini untuk berbagai macam kegiatan prestatif. Manfaatkan liburan ini untuk menggali kompetensi yang benar-benar kita minati sendiri. Jadikan liburan ini liburan yang produktif dan prestatif.
Saya sendiri sudah punya beberapa rencana-rencana yang akan saya lakukan selama liburan, berikut beberapa diantaranya:
- launching islamipedia (apa itu islamipedia? tunggu tanggal mainnya)
- mengulang kembali semua hapalan yang sudah mulai terlupakan, sekaligus menambah hapalan minimal 2 surat selama liburan
- memberikan pelatihan web design di fisip
- mulai mencoba mengadakan kursus komputer gratis dirumah (home course)
- menghabiskan semua bacaan buku yang selama ini tersendat-sendat
- menuntaskan berbagai amanah di univind, sekolah, kampus dll
- belajar set up server sendiri
- belajar berenang, liburan ini harus sudah bisa berenang
- menyelesaikan tontonan avatar book 3
biar bagaimanapun kita tidak boleh jadi orang yang terlalu strict dengan meninggalkan semua hal yang kita sukai atas nama produktifitas. Tentunya kita sebagai manusia biasa juga butuh hiburan, istirahat, rasa santai dsb. Intinya asal jangan sampai yang kayak begini jadi dominan disepanjang liburan kita.
jadi,
AYO KITA MANFAATKAN LIBURAN KITA UNTUK KEGIATAN YANG PRESTATIS DAN PRODUKTIF. Jangan sia-siakan liburan ini untuk kegiatan yang gak banyak gunanya.


